TJ- Di tengah gempuran musik up-beat dan produksi digital yang serba instan, sebuah mahakarya distopia dari tahun 1997, “No Surprises” milik Radiohead, secara ajaib kembali merajai ruang dengar global di penghujung 2025. Bukan sekadar tren sesaat, kembalinya lagu ini menjadi sebuah anomali sosiokultural yang menarik untuk dibedah.
Beranda
Hiburan
Melankolia yang Menolak Mati: Mengapa "No Surprises" Radiohead Kembali Menghujam Jantung Generasi Digital ?
Melankolia yang Menolak Mati: Mengapa “No Surprises” Radiohead Kembali Menghujam Jantung Generasi Digital ?
admin2 min baca
Simfoni Kepasrahan di Tengah Kelelahan Modern
“No Surprises” bukan lagi sekadar artefak dari album legendaris OK Computer. Di tahun 2025, denting glockenspiel yang menyerupai kotak musik pengantar tidur tersebut bertransformasi menjadi lagu kebangsaan bagi mereka yang mengalami existential burnout.
Lirik ikonik “a heart that’s full up like a landfill” (hati yang penuh layaknya tempat pembuangan sampah) terasa semakin relevan bagi generasi hari ini yang terpapar polusi informasi dan ekspektasi sosial yang mencekik. Lagu ini menangkap esensi kepasrahan yang estetis—sebuah keinginan untuk menarik diri dari kebisingan dunia demi kehidupan yang tenang, tanpa kejutan, dan tanpa rasa sakit.
Fenomena Visual dan Estetika “Core”
Kebangkitan lagu ini tidak lepas dari pergeseran estetika di platform media sosial. Para kreator konten menggunakan “No Surprises” untuk membingkai momen-momen melancholy-aesthetic. Efek sinematik yang dihasilkan oleh aransemen gitar Ed O’Brien dan vokal rapuh Thom Yorke menciptakan ruang aman bagi pendengar untuk merayakan kesedihan mereka.
Para kritikus musik menyebut fenomena ini sebagai “The Comfort of Sadness”—di mana kesuraman musik justru memberikan efek katarsis dan ketenangan di tengah dunia yang semakin tidak terprediksi.
Visi Distopia yang Menjadi Nyata
Menariknya, video musik orisinal yang menampilkan wajah Thom Yorke tenggelam dalam helm air kini dipandang sebagai nubuat visual tentang keterasingan manusia. Dalam perspektif intelektual, “No Surprises” adalah kritik tajam terhadap rutinitas kapitalisme yang membunuh jiwa secara perlahan (“a job that slowly kills you”).
“Radiohead tidak membuat lagu ini untuk tren, mereka menciptakan cermin,” ungkap seorang kurator musik independen. “Lagu ini populer kembali karena kita akhirnya sampai pada titik di mana ‘tidak ada kejutan’ adalah kemewahan tertinggi yang kita dambakan.”
Mengapa Kita Masih Mendengarkannya?
Hingga hari ini, “No Surprises” terus mengumpulkan jutaan aliran (streams) setiap harinya, membuktikan bahwa emosi manusia yang paling murni—kesepian dan kerinduan akan kedamaian—adalah bahasa universal yang melampaui dekade.
Bagi para pendengar, lagu ini bukan sekadar kebisingan latar belakang; ia adalah kawan bicara di saat sunyi, sebuah pelukan dingin yang membisikkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah.













