Cek Fakta

Kabupaten Tangerang Terendam 3 Hari, 1.000 Warga Mengungsi, Krisis Logistik Mulai Membayang

102
×

Kabupaten Tangerang Terendam 3 Hari, 1.000 Warga Mengungsi, Krisis Logistik Mulai Membayang

Sebarkan artikel ini
Tim BPBD Kabupaten Tangerang menggunakan perahu karet sedang mengevakuasi lansia dan anak-anak dari pemukiman yang terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa pada Januari 2026.
Banjir Kabupaten Tangerang Januari 2026
TANGERANGJASA NEWS – Penderitaan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang memasuki titik krusial. Hingga Rabu (14/1/2026), genangan air bah yang dipicu intensitas hujan ekstrem selama tiga hari terakhir belum menunjukkan tanda-tanda surut signifikan. Berdasarkan data terkini, sebanyak 1.000 jiwa terpaksa meninggalkan hunian mereka yang terendam dan kini menggantungkan hidup di posko-posko pengungsian darurat.
Kecamatan-kecamatan langganan banjir seperti Kelapa Dua, Pasarkemis, dan Teluknaga menjadi wilayah terdampak paling parah dengan ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga 1,5 meter. Kondisi ini melumpuhkan aktivitas ekonomi warga dan memutus akses sejumlah jalan desa.
Kondisi di titik pengungsian mulai diwarnai kekhawatiran akan ketersediaan logistik dan obat-obatan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan yang kini mulai terserang penyakit kulit serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat cuaca dingin dan sanitasi yang terbatas.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, memberikan pernyataan resmi terkait upaya evakuasi dan penanganan sisa dampak banjir di lapangan.
“Kami sudah menetapkan status tanggap darurat. Saat ini, fokus utama tim di lapangan adalah mengevakuasi warga yang masih terjebak di lantai dua rumah mereka serta memastikan distribusi bantuan pangan ke 1.000 pengungsi berjalan lancar,” tukasnya.
Lanjutnya lagi, “Kami mengakui bahwa kendala utama saat ini adalah akses mobilitas perahu karet yang terbatas sementara jumlah titik evakuasi terus bertambah. Kami mengimbau warga untuk segera mengungsi sebelum debit air kembali naik akibat potensi hujan susulan malam ini,” tegas Ujat Sudrajat saat memimpin operasi  evakuasi.
Secara intelektual, banjir berulang ini menjadi tamparan keras bagi tata kelola drainase dan tata ruang di wilayah penyangga ibu kota. Pertumbuhan pemukiman yang masif tanpa dibarengi dengan perluasan area resapan air dituding sebagai penyebab utama air tertahan selama berhari-hari.
Namun di sisi lain, solidaritas kemanusiaan mulai bermunculan. Berbagai komunitas relawan dan sektor swasta mulai turun tangan menyalurkan bantuan. Penanganan banjir 2026 ini bukan sekadar tentang memompa air keluar, melainkan tentang bagaimana pemerintah daerah mampu memanusiakan para korban yang telah kehilangan harta benda dalam sekejap.
Pemerintah Kabupaten Tangerang kini dituntut untuk melakukan normalisasi sungai-sungai besar yang melintasi wilayahnya dan mempercepat pembangunan kolam retensi. Tanpa solusi struktural yang radikal, angka 1.000 pengungsi ini dikhawatirkan akan menjadi potret rutin setiap awal tahun di masa depan.(Hasyim)
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *