Tangerangjasa News – Minggu, 25 Januari 2026, menjadi hari yang sunyi bagi keluarga besar penerbangan Indonesia dan warga Perumahan PWS Tigaraksa. Di balik kabut duka yang menyelimuti, prosesi pemakaman Capt. Andy Dahananto, pilot senior Indonesia Air Transport (IAT), dijadwalkan berlangsung siang ini di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ranca Sadang, Desa Sodong, Tigaraksa.
Almarhum merupakan satu dari sepuluh jiwa yang gugur dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan terjal Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Capt. Andy bukan sekadar seorang penerbang; ia adalah figur senior yang mendedikasikan hidupnya di cakrawala, hingga takdir menjemputnya saat mengemban tugas negara bersama kru dan tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Ketua RT 06 Perumahan PWS Tigaraksa, Franciscus Nasir, mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggal almarhum telah bersiap sejak Sabtu malam untuk menyambut kepulangan sang pilot.
“Kami telah menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari ambulans hingga tempat ibadah. Ini adalah bentuk penghormatan terakhir kami kepada tetangga sekaligus sosok yang sangat dihormati,” ujar Nasir dengan nada penuh empati.
Sebelum diantar ke peristirahatan terakhir, jenazah Capt. Andy beserta sembilan korban lainnya akan menjalani upacara penghormatan negara di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, dijadwalkan memimpin langsung prosesi serah terima jenazah kepada pihak keluarga. Upacara ini menjadi simbol apresiasi atas dedikasi para korban yang tengah menjalankan misi survei udara saat kecelakaan terjadi.
Kejelasan mengenai identitas para korban berhasil dipastikan melalui kerja keras Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, mengonfirmasi bahwa seluruh manifest yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang telah teridentifikasi secara akurat.
Selain Capt. Andy, daftar korban mencakup para profesional yang berdedikasi, di antaranya Co-Pilot Muhammad Parhan Gunawan dan operator foto udara KKP, Yoga Nouval Prakoso. Keberhasilan identifikasi ini memberikan ketenangan bagi keluarga yang menanti kepastian di tengah kepedihan mendalam.
Kini, di bawah langit Tangerang yang mendung, Capt. Andy Dahananto akan beristirahat dengan tenang. Di TPU Ranca Sadang, ia tak lagi menjinakkan mesin dan menembus awan; ia kembali ke pelukan bumi, meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang dalam sejarah penerbangan sipil Indonesia.(Abdul Manaf)










