Sejarah Tangerang

Menyingkap Filosofi di Balik Nama Kampung di Tajur, Ciledug

26
×

Menyingkap Filosofi di Balik Nama Kampung di Tajur, Ciledug

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi peta wilayah Kelurahan Tajur Ciledug yang berbatasan dengan Tangerang Selatan dan tepian Kali Angke yang asri.
ejak sejarah: Penampakan vegetasi hijau di wilayah Tajur yang dahulu dikenal sebagai pusat perkebunan karet dan buah-buahan di barat daya Ciledug.
TANGERANGJASA NEWS – Bahasa dan tempat bukan sekadar penanda geografis; keduanya adalah bejana yang menyimpan memori kolektif dan kearifan lokal. Di Kecamatan Ciledug, tepatnya di Kelurahan Tajur, setiap jengkal tanah memiliki narasi panjang yang berkelindan antara karakter alam dan perilaku sosial masyarakatnya.
Penulis buku “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang”, Burhanudin, menguraikan bahwa secara etimologis dalam bahasa Sunda, Tajur merujuk pada kebun atau ladang yang produktif. Pada masa kolonial, wilayah ini merupakan daratan subur yang menjadi episentrum persemaian karet, sekaligus menjadi penyangga ekonomi melalui komoditas perkebunan seperti durian, rambutan, hingga singkong. Namun, di balik definisi agraris tersebut, terdapat akulturasi makna yang bersifat humanis. Masyarakat setempat mempercayai bahwa Tajur merupakan akronim dari “Taat dan Jujur”. Sebuah refleksi atas religiositas dan integritas warga yang secara turun-temurun memegang teguh nilai-nilai keislaman dalam keseharian mereka.
Pergeseran topografi dan perkembangan desa-desa baru di Tajur juga melahirkan identitas unik lainnya. Sebut saja Kampung Duren Sawit, yang namanya lahir dari analogi visual masyarakat terhadap buah durian lokal. Meski berukuran mungil menyerupai buah sawit, duren ini melegenda berkat cita rasanya yang manis tiada tara. Tak jauh dari sana, Kampung Ciputat hadir dengan identitas botani yang kental. Nama ini berakar dari keberadaan Pohon Putat (Barringtonia) yang dahulu rimbun menaungi tepian Kali Angke. Pohon langka ini tidak hanya berfungsi sebagai peneduh estetik layaknya payung alam, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi kuliner nusantara melalui pucuk daun mudanya yang kerap dijadikan ulaman.
Melalui penelusuran sejarah ini, kita diajak untuk kembali menghargai jati diri lingkungan. Sejarah Tajur dan sekitarnya adalah pengingat bahwa kemajuan urbanisasi tidak boleh menggerus akar filosofis dan kelestarian alam yang telah membentuk karakter sebuah wilayah.

Mari kita jaga warisan sejarah ini bukan hanya sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai fondasi untuk membangun masa depan Kota Tangerang yang lebih inklusif dan sadar akan akar budayanya.(Hasyim/ARM)
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *