Tangerang Selatan, TJ-Wajah pembangunan infrastruktur di Jakarta dan sekitarnya kini diwarnai ironi mendalam. Di satu sisi, revitalisasi Pasar Ciputat yang menelan biaya fantastis kini berujung sepi, ditinggalkan pedagang yang memilih kembali ke trotoar.
Revitalisasi Pasar Ciputat yang digadang-gadang menjadi pasar modern dan representatif kini menjadi monumen kegagalan perencanaan. Pedagang kaki lima (PKL) yang seharusnya menempati kios-kios baru di dalam gedung justru memilih bertahan di trotoar dan bahu jalan sekitar pasar. Alasan utama mereka bersifat pragmatis: sepinya pembeli di dalam gedung baru dan tingginya biaya sewa serta operasional dinilai tidak sepadan dengan omzet yang didapat.
Sejumlah pedagang mengeluhkan manajemen pasar yang dianggap kurang proaktif dalam mempromosikan lokasi baru dan minimnya sosialisasi mengenai tata niaga pasca-revitalisasi. Akibatnya, area luar pasar kembali semrawut, mengganggu arus lalu lintas, sementara fasilitas megah di dalam gedung terbengkalai.
“Ini adalah kegagalan sistemik dalam melihat ekosistem pasar rakyat. Revitalisasi fisik harus dibarengi dengan manajemen sosial dan ekonomi yang kuat. Ketika pedagang merasa ruang baru tidak menguntungkan secara finansial, mereka akan kembali ke habitat ekonomi alaminya, trotoar,” ujar Rusli seorang pengamat perkotaan.(Yuseizal)



