Tangerangjasa.id-Minat terhadap mobil listrik di Tangerang cenderung rendah bukan haya disebebkan trende nasional rendah tapi juga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya keterbatasan infrastruktur pengisian daya, harga beli yang relatif mahal, dan kekhawatiran akan daya tahan serta biaya baterai.
Marcel (45) pengusaha muda asal Tangsel mengaku dirinya mempunyai niatan membeli mobil listrik, namun niatan itu dibatalkan karena memikirkan kedepannya, terlebih mendengar beberpa temannya yang sebelumnya telah memiliki sejumlah kendala yang hampir sama.
“Awalnya saya mau beli juga, melihat diluar Tangerang sana banyak yang menggunakan, tapi mendengar teman teman di Tangerang yang udah pernah beli terus dijual lagi, saya berpikir kalo di Tangerang kayanya belum siap,”ujarnya.
Melansir dari info tersebut, Tangerangjasa.id coba menelusuri dan menyambangi beberapa bengkel otomotif dan berbincang kepada pemilik kendaraan yang dimaksud termasuk beberapam komunitas yang sempat ada namun redup kembali, secara umum diadapatin informasi kelemahan mobil listrik yang relevan di Tangerang dan secara umum di Indonesia mencakup beberapa aspek utama, terutama terkait infrastruktur pengisian daya dan harga unit yang masih relatif mahal, berikut adalah rincian alasannya:
1. Keterbatasan Infrastruktur Pengisian Daya
Salah satu hambatan paling signifikan adalah jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang masih sedikit dan belum merata, termasuk di daerah seperti Kabupaten Tangerang. Hal ini menyebabkan kekhawatiran bagi calon pembeli mengenai kecemasan jarak tempuh (range anxiety), Pengemudi khawatir kehabisan daya di tengah jalan, terutama untuk perjalanan jarak jauh, dan kesulitan menemukan tempat pengisian daya yang tersedia.
2.Waktu pengisian yang lama
Mengisi daya baterai mobil listrik membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan mengisi bahan bakar bensin, sehingga mengurangi kenyamanan penggunaan sehari-hari.
3. Harga Beli yang Relatif Mahal
Meskipun ada insentif dari pemerintah, harga mobil listrik baru cenderung lebih mahal dibandingkan mobil konvensional dengan spesifikasi sebanding. Modal awal yang besar ini menjadi penghalang bagi banyak konsumen di Tangerang, Bahkan Pemerintah Kota Tangerang sempat mengeluhkan hal ini sebagai kendala dalam pengadaan kendaraan dinas listrik.
3. Kekhawatiran Mengenai Baterai dan Biaya Perawatan
Sejumlah calon onsumen masih memiliki keraguan mengenai teknologi baterai yang merupakan komponen paling vital dan mahal dari mobil listrik, kekhawatiran tersebut tentang berapa lama baterai akan bertahan sebelum perlu diganti. Ditambah lagi biaya penggantian baterai yang sangat tinggi jika terjadi kerusakan atau penurunan performa yang signifikan seiring waktu.
4.Nilai Jual Kembali yang Belum Stabil
Pasar mobil listrik bekas masih tergolong baru dan belum stabil. Beberapa laporan menunjukkan harga jual mobil listrik bekas bisa anjlok, yang membuat konsumen ragu untuk berinvestasi pada kendaraan jenis ini karena takut mengalami kerugian finansial di masa depan.
Beberapa kelemahan teknis yang sering dilaporkan oleh pengguna
Jarak Tempuh Aktual
Jarak tempuh aktual mobil listrik terkadang tidak sesuai dengan klaim pabrikan, dipengaruhi oleh gaya mengemudi dan kondisi jalan.
Performa di Tanjakan
Beberapa model mobil listrik entry-level terasa kurang bertenaga saat melewati tanjakan, terutama dengan beban penuh. Kecelakaan terkait sistem otomatis Pernah dilaporkan insiden kecelakaan di area Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, yang diduga melibatkan malfungsi sistem kemudi otomatis pada mobil listrik, meskipun investigasi lebih lanjut diperlukan.
Disisi lain kurangnya pemahaman dan edukasi publik turut mempengaruhi tingkat pemahaman masyarakat umum mengenai kendaraan listrik masih tergolong minim. Kurangnya sosialisasi tentang manfaat, cara penggunaan, dan program pemerintah terkait KBLBB (Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai) turut mempengaruhi minat beli.
Faktor-faktor ini, ditambah dengan ketersediaan luas dan kemudahan akses bahan bakar minyak (BBM) di Tangerang, membuat mobil konvensional masih menjadi pilihan utama bagi mayoritas masyarakat. (Patricia)





