TANGERANGJASA-Dalam dunia onkologi, radioterapi telah berkembang menjadi instrumen vital yang menawarkan tingkat keberhasilan tinggi bagi penyintas kanker serviks. Memasuki tahun 2026, kemajuan teknologi radiasi tidak hanya berfokus pada penghancuran massa tumor, tetapi juga pada aspek proteksi jaringan sehat di sekitarnya.
Secara medis, radioterapi adalah prosedur pengobatan yang memanfaatkan sinar-X berenergi tinggi atau partikel radioaktif untuk menginduksi kerusakan permanen pada struktur DNA sel kanker. Ketika DNA ini rusak, sel kanker kehilangan kemampuan untuk berproliferasi (membelah diri) dan secara bertahap akan mati.
Pada penanganan kanker serviks, dokter spesialis onkologi radiasi umumnya menerapkan protokol kombinasi:
- Radiasi Eksternal (EBRT): Menggunakan mesin Linear Accelerator (LINAC) untuk menghantarkan foton dari luar tubuh secara akurat ke area panggul.
- Brachiterapi (Radiasi Internal): Prosedur di mana sumber radioaktif ditempatkan langsung di dalam vagina atau serviks. Teknik ini dianggap sebagai “standar emas” karena mampu memberikan dosis radiasi maksimal tepat pada target tumor primer dengan meminimalkan paparan ke organ kritis seperti rektum dan kandung kemih.
Berdasarkan pedoman American Cancer Society, era 2026 menekankan pada aspek “Presisi Medis”. Teknologi IMRT (Intensity-Modulated Radiation Therapy) memungkinkan dokter memodulasi intensitas pancaran sinar sesuai dengan geometri tumor yang kompleks. Sementara itu, IGRT (Image-Guided Radiation Therapy) menggunakan pemindaian citra real-time (CT/MRI) setiap kali sesi terapi berlangsung, guna memastikan target tetap akurat meskipun posisi organ dalam mengalami pergeseran minor.
Radioterapi sering kali diberikan bersamaan dengan kemoterapi dosis rendah, sebuah metode yang dikenal sebagai kemosensitisasi. Dalam proses ini, obat kemoterapi bertindak sebagai agen yang membuat sel kanker menjadi lebih “rapuh” dan sensitif terhadap efek radiasi, sehingga meningkatkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.
Kabar baik bagi masyarakat Indonesia, akses terhadap teknologi radioterapi canggih kini tidak lagi terbatas di kota-kota besar tertentu. Pemerintah melalui program Transformasi Layanan Kanker Kemenkes RI telah melakukan akselerasi pengadaan peralatan radioterapi mutakhir di berbagai rumah sakit rujukan di seluruh provinsi.
Langkah strategis ini bertujuan untuk memperpendek waktu tunggu pasien dan memastikan bahwa setiap perempuan Indonesia mendapatkan standar perawatan kanker terbaik. Informasi mengenai fasilitas kesehatan yang memiliki unit onkologi radiasi dapat diakses melalui portal resmi Ayo Sehat Kemenkes RI.
Saran Medis dan Pasca-Terapi
Meskipun radioterapi dirancang untuk melindungi jaringan sehat, pasien mungkin akan mengalami gejala seperti fatigue (kelelahan hebat) atau iritasi kulit panggul. Dokter menyarankan penggunaan pelembap medis tanpa pewangi serta pemantauan ketat pasca-terapi melalui penggunaan vaginal dilator untuk mencegah risiko stenosis (penyempitan) vagina.
Catatan Penting: Keputusan mengenai regimen radioterapi harus didasarkan pada diskusi komprehensif antara pasien dan tim medis multidisiplin setelah melalui tahapan pemindaian staging yang akurat..(Tyas)
Post Views: 8
t
