TANGERANGJASA – Setiap jengkal tanah di Kota Tangerang menyimpan memori kolektif yang terajut dalam narasi sejarah, dan Jatiuwung adalah salah satu babak paling vital dari kisah tersebut. Kini dikenal sebagai denyut nadi industri dan permukiman padat, asal-usul nama Jatiuwung justru membawa kita kembali ke lanskap hutan jati yang eksotis, tempat para penguasa lokal menentukan takdir wilayahnya.
Dalam khazanah budaya Tangerang, penyebutan Jatiuwung adalah sintesa linguistik dari dua kata kunci: “jati” yang merujuk pada Tectona grandis (pohon jati), dan “uwung” yang bermakna penguasa atau pejabat lokal setempat.
Budayawan dan sejarawan lokal, Burhanudin, dalam karyanya yang monumental “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang”, memaparkan bahwa nama ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan cerminan status sosial-politik daerah tersebut sejak era kolonial.
“Jatiuwung adalah area dengan karakteristik tempat tumbuhnya pohon jati yang lebat, sekaligus menjadi tempat bermukimnya tokoh-tokoh besar. Daerah ini sejak dulu kala dihuni oleh pejabat lokal bahkan kiai dan ulama kharismatik,” tulis Burhanudin, menyingkap lapisan sejarah yang jarang diketahui publik.
Tokoh sentral seperti K.H. Ahmad Sairun, yang pernah menjabat sebagai Bupati Tangerang (Patih) pada transisi zaman kolonial menuju Republik, dan K.H. Barmawi, ulama terkemuka, adalah “uwung-uwung” (para penguasa/tokoh) yang memberikan legitimasi kultural bagi nama wilayah ini.
Seiring berjalannya waktu, narasi visual Jatiuwung berubah drastis. Hutan jati yang menjadi identitas utama kini hanya tinggal kenangan.
“Habitat pohon jatinya sudah hilang,” tambah Burhanudin. Perubahan masa tanam jati yang puluhan tahun tidak sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Jatiuwung bertransformasi menjadi kawasan permukiman dan zona industri padat yang menopang aktivitas ekonomi Kota Tangerang, sebuah metamorfosis dari agraris-kultural menjadi urban-industrial.
Meskipun pohon jati fisik sulit ditemukan, Pemerintah Kota Tangerang dan masyarakat setempat tetap menjaga memori sejarah ini. Salah satu penanda penting yang masih berdiri kokoh adalah Tugu atau Monumen Jatiuwung yang berada di area strategis perbatasan. Tugu ini menjadi pengingat visual bagi generasi kini akan identitas historis wilayah mereka.
Selain tugu, jejak sejarah juga dapat ditelusuri melalui bangunan tua peninggalan era kolonial yang masih tersisa di beberapa titik, meskipun keberadaannya semakin terhimpit oleh pabrik modern dan ruko-ruko baru. Area pemakaman tokoh-tokoh penting seperti makam K.H. Ahmad Sairun juga menjadi situs ziarah dan napak tilas sejarah lokal.
Jatiuwung Kini: Dari Kampung Menjadi Kecamatan
Secara administratif, nama Jatiuwung hidup dalam dua entitas:
- Kelurahan Jatiuwung: Bagian dari Kecamatan Cibodas.
- Kecamatan Jatiuwung: Sebuah kecamatan tersendiri di Kota Tangerang, yang mencakup beberapa kelurahan lain.
Pemisahan administratif ini menunjukkan betapa sentralnya peran Jatiuwung dalam struktur tata kelola Kota Tangerang, sebuah warisan dari para “uwung” yang pernah bermukim di sana.
“Penting bagi kita untuk tidak hanya melihat Jatiuwung sebagai kawasan pabrik dan kemacetan,” ujar ADIF (Aktivis Budayawan sekaligus Pengamat Tata Kota yang juga menaruh perhatian pada isu budaya lokal).
“Jatiuwung adalah cerminan ketahanan sejarah. Meskipun pohon jatinya telah hilang, ‘jati diri’ masyarakatnya sebagai keturunan para tokoh besar harus tetap lestari. Monumen yang ada berfungsi sebagai jangkar memori kolektif agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya.”(Rahman)

