- Narkoterorisme: AS menuduh Maduro memimpin kartel narkoba “Los Soles” yang membanjiri jalanan Amerika dengan kokain dan fentanyl.
- Krisis Migrasi: Trump menyalahkan Venezuela atas “invasi” migran di perbatasan selatan AS dan menegaskan bahwa pengambilalihan Caracas adalah satu-satunya cara menghentikan arus tersebut.
- Kedaulatan Energi (Minyak): Secara blak-blakan, Trump menyatakan bahwa AS akan “menjalankan” Venezuela dan membuka akses penuh bagi perusahaan minyak AS untuk mengelola cadangan minyak mentah terbesar di dunia yang selama ini dianggap “salah urus”.
- Efek Legitimasi: Jika AS dapat melakukan intervensi militer atas nama kepentingan nasional tanpa sanksi internasional, Beijing mungkin merasa memiliki pembenaran serupa untuk melakukan reunifikasi paksa terhadap Taiwan.
- Analisis Senior: Pengamat militer melihat Beijing kini sedang menakar reaksi dunia. “Jika komunitas internasional gagal menghukum Washington atas jatuhnya Caracas, maka lonceng kematian bagi kedaulatan Taiwan sedang berbunyi,” lapor koresponden konflik kami. Namun, beberapa analis lain menilai China lebih mungkin menggunakan insiden ini untuk memperkuat posisi diplomatiknya dan memojokkan narasi “ketertiban internasional berbasis aturan” milik AS.
Donald Trump (Presiden AS):
“Kita tidak takut menaruh ‘boots on the ground’. Kami akan menjalankan Venezuela sampai transisi yang aman terjadi. Kita akan mengambil minyak itu, memperbaikinya, dan memastikan itu menguntungkan rakyat Amerika dan Venezuela.”
Nicolás Maduro (Presiden Venezuela – Sebelum Penangkapan):
“Ini adalah agresi imperialis abad ke-21. Mereka tidak menginginkan demokrasi, mereka menginginkan minyak kami. Kami akan melawan hingga tetes darah terakhir!”
Kementerian Luar Negeri China:
Mengutuk keras serangan tersebut sebagai “perilaku hegemonik telanjang” dan menuntut pembebasan segera Maduro serta istrinya, Cilia Flores, yang kini ditahan di New York.





