Internasional

“Operasi Tombak Selatan”: Trump Menaklukkan Caracas, Xi Jinping Mengintai Selat Taiwan?

5
×

“Operasi Tombak Selatan”: Trump Menaklukkan Caracas, Xi Jinping Mengintai Selat Taiwan?

Sebarkan artikel ini
Latihan tembak langsung jarak jauh yang menargetkan perairan di selatan Taiwan, dari lokasi yang tidak diungkapkan dalam cuplikan video pada (30/12/25) Lalu
WASHINGTON, TANGERANGJASA – Dunia terbangun dalam guncangan geopolitik terdahsyat di awal 2026. Dalam sebuah manuver militer kilat yang melangkahi norma hukum internasional, pasukan elite Amerika Serikat resmi melancarkan invasi ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026. Operasi bertajuk “Operation Southern Spear” ini tidak hanya meruntuhkan rezim di Caracas, tetapi juga memicu efek domino yang kini mengancam stabilitas di Selat Taiwan.
Presiden Donald Trump, melalui pernyataan resminya di Florida dan platform Truth Social, menegaskan bahwa agresi militer ini adalah langkah penegakan hukum global. Terdapat tiga pilar utama yang menjadi dalih Washington:
  1. Narkoterorisme: AS menuduh Maduro memimpin kartel narkoba “Los Soles” yang membanjiri jalanan Amerika dengan kokain dan fentanyl.
  2. Krisis Migrasi: Trump menyalahkan Venezuela atas “invasi” migran di perbatasan selatan AS dan menegaskan bahwa pengambilalihan Caracas adalah satu-satunya cara menghentikan arus tersebut.
  3. Kedaulatan Energi (Minyak): Secara blak-blakan, Trump menyatakan bahwa AS akan “menjalankan” Venezuela dan membuka akses penuh bagi perusahaan minyak AS untuk mengelola cadangan minyak mentah terbesar di dunia yang selama ini dianggap “salah urus”.
Langkah berani Washington di halaman belakangnya sendiri telah mengirimkan sinyal berbahaya ke Beijing. Pakar hubungan internasional memperingatkan bahwa invasi AS ke Venezuela memberikan “amunisi moral” bagi China.
  • Efek Legitimasi: Jika AS dapat melakukan intervensi militer atas nama kepentingan nasional tanpa sanksi internasional, Beijing mungkin merasa memiliki pembenaran serupa untuk melakukan reunifikasi paksa terhadap Taiwan.
  • Analisis Senior: Pengamat militer melihat Beijing kini sedang menakar reaksi dunia. “Jika komunitas internasional gagal menghukum Washington atas jatuhnya Caracas, maka lonceng kematian bagi kedaulatan Taiwan sedang berbunyi,” lapor koresponden konflik kami. Namun, beberapa analis lain menilai China lebih mungkin menggunakan insiden ini untuk memperkuat posisi diplomatiknya dan memojokkan narasi “ketertiban internasional berbasis aturan” milik AS.

Donald Trump (Presiden AS): 

“Kita tidak takut menaruh ‘boots on the ground’. Kami akan menjalankan Venezuela sampai transisi yang aman terjadi. Kita akan mengambil minyak itu, memperbaikinya, dan memastikan itu menguntungkan rakyat Amerika dan Venezuela.”

Nicolás Maduro (Presiden Venezuela – Sebelum Penangkapan): 

“Ini adalah agresi imperialis abad ke-21. Mereka tidak menginginkan demokrasi, mereka menginginkan minyak kami. Kami akan melawan hingga tetes darah terakhir!”

Kementerian Luar Negeri China: 

Mengutuk keras serangan tersebut sebagai “perilaku hegemonik telanjang” dan menuntut pembebasan segera Maduro serta istrinya, Cilia Flores, yang kini ditahan di New York.

Invasi 2026 ini menandai berakhirnya era diplomasi santun. Dengan ditangkapnya seorang kepala negara aktif oleh kekuatan asing, dunia kini memasuki fase “hukum rimba” di mana kekuatan militer menjadi penentu tunggal kedaulatan. Sementara AS merayakan “kemenangan” di Caracas, mata dunia kini tertuju pada Selat Taiwan.
Apakah Beijing akan membalas dendam di Timur atas apa yang dilakukan Washington di Barat?
Satu hal yang past, Peta politik dunia tidak akan pernah sama lagi setelah malam berdarah di Caracas.(Yasir)
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *