TJ- Selama lebih dari satu dekade, Ridwan Kamil (RK) adalah wajah bagi politik modern Indonesia: estetik, digital, dan penuh narasi keberhasilan. Namun, memasuki akhir tahun 2025, panggung megah yang dibangun melalui algoritma media sosial itu mulai menunjukkan retakan hebat. Istilah “retaknya pesona politik pencitraan” kini menjadi perbincangan hangat, menandai titik balik paling kritis dalam karier sang “Gubernur Urban”.
Badai di Gedung Merah Putih
Kejutan terbesar datang dari Gedung Merah Putih KPK. Pada Desember 2025, RK memenuhi panggilan penyidik sebagai saksi terkait dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB periode 2021–2023. Kasus yang menelan anggaran negara dalam jumlah fantastis ini memukul telak narasi “bersih dan transparan” yang selama ini menjadi jualan utama RK.
Komentar KPK:
Juru Bicara KPK memberikan keterangan tegas terkait pemeriksaan ini. “Kami mendalami alur kebijakan penganggaran iklan tersebut. Kapasitas Saudara RK sebagai saksi adalah untuk mengonfirmasi sejauh mana kewenangan kepala daerah saat itu dalam intervensi anggaran di BUMD. Tidak ada orang yang kebal hukum jika bukti-bukti mengarah pada kerugian negara,” ujar juru bicara lembaga antirasuah tersebut.
Juru Bicara KPK memberikan keterangan tegas terkait pemeriksaan ini. “Kami mendalami alur kebijakan penganggaran iklan tersebut. Kapasitas Saudara RK sebagai saksi adalah untuk mengonfirmasi sejauh mana kewenangan kepala daerah saat itu dalam intervensi anggaran di BUMD. Tidak ada orang yang kebal hukum jika bukti-bukti mengarah pada kerugian negara,” ujar juru bicara lembaga antirasuah tersebut.
Efek Domino Kekalahan Jakarta dan Isu Personal
Kekalahan mengejutkan di Pilkada Jakarta 2024 melawan pasangan Pramono Anung-Rano Karno rupanya bukan sekadar angka di atas kertas. Kekalahan tersebut menjadi bukti sosiologis bahwa 21 juta pengikut di media sosial tidak berbanding lurus dengan loyalitas di bilik suara.
Situasi diperparah dengan guncangan di ranah privat. Isu keretakan rumah tangga dan kabar gugatan cerai yang mencuat di pengujung tahun menjadi “badai sempurna”. Bagi masyarakat, khususnya di Jawa Barat yang sangat menjunjung nilai-nilai kekeluargaan, isu ini melukai sentimen moral yang selama ini melekat pada citra RK sebagai sosok family man.
Dari “Influencer” Menjadi “Pengangguran Politik“
Analisis terbaru dari Pusat Riset Politik BRIN mencatat penurunan popularitas yang tajam. Saat figur seperti Dedi Mulyadi terus mengonsolidasi basis massa di akar rumput Jawa Barat dengan kerja-kerja nyata, RK terjebak dalam status yang oleh netizen dijuluki sebagai “pengangguran politik” pasca-masa jabatan tanpa kursi publik aktif.
Respon Ridwan Kamil:
Menanggapi gelombang tudingan dan situasi hukum yang membelitnya, Ridwan Kamil memberikan pernyataan singkat namun sarat makna melalui kanal resminya.
Menanggapi gelombang tudingan dan situasi hukum yang membelitnya, Ridwan Kamil memberikan pernyataan singkat namun sarat makna melalui kanal resminya.
“Hidup adalah tentang naik dan turunnya ujian. Saya menghormati proses hukum di KPK dan akan kooperatif karena saya meyakini integritas adalah nafas saya. Terkait narasi-narasi personal dan politik di luar sana, saya memilih fokus pada evaluasi diri. Politik pencitraan? Saya rasa ini hanya cara orang melihat dari luar. Waktu yang akan menjawab kebenaran,” ungkap RK dengan nada tenang namun getir.
Kesimpulan: Akhir dari Sebuah Era?
Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana realitas politik dan hukum yang keras mampu menembus “filter” digital yang selama ini melindungi citra Ridwan Kamil. Pengamat menilai, jika RK ingin kembali ke panggung kekuasaan pada 2029, ia tidak bisa lagi hanya mengandalkan estetika visual. Ia membutuhkan re-branding total yang lebih membumi dan lepas dari bayang-bayang skandal.
Apakah sang arsitek mampu merancang kembali reruntuhan citranya, ataukah ini benar-benar senjakala bagi pesona politik sang “Kang Emil”? Publik masih terus menunggu langkah catur selanjutnya.













