TANGERANGJASA – Di tengah tantangan global mengenai ledakan limbah perkotaan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengambil langkah berani dan terukur. Memasuki ambang tahun 2026, DLH Kota Tangerang secara resmi merumuskan Manifesto Pengelolaan Sampah Modern guna memastikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing tetap memiliki daya tampung (carrying capacity) yang mumpuni melalui integrasi teknologi dan manajemen presisi.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan sebuah arsitektur ekologis yang dirancang untuk menjawab kegelisahan publik akan isu over capacity.
Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan bahwa fokus utama di tahun 2026 adalah implementasi sistem Sanitary Landfill yang lebih mutakhir. Strategi ini mengedepankan isolasi limbah secara total untuk memitigasi risiko pencemaran air tanah, tanah, dan polusi udara.
“Kami tidak hanya menumpuk sampah, kami mengelolanya dengan etika lingkungan. Mulai awal tahun depan, kami akan mengaplikasikan teknologi geomembran untuk menata ulang landfill. Dengan menutup zona yang tidak aktif secara permanen, kita melakukan mitigasi gas metan sekaligus mengoptimalkan area aktif. Ini adalah langkah teknis berbasis kontrol berkala yang sangat ketat,” ungkap Wawan Fauzi, Senin (30/12/2025).
Kepemimpinan Wawan Fauzi menunjukkan kualitas intelektual yang tinggi melalui koordinasi strategis lintas sektoral. DLH telah mengantongi restu dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia untuk melakukan dekomisioning beberapa zona landfill non-aktif. Langkah diplomasi ini menjadi kunci dalam legalitas dan standar keamanan lingkungan nasional.
Menyadari bahwa kecepatan operasional adalah kunci, Pemkot Tangerang juga telah mengalokasikan anggaran khusus di tahun 2026 untuk modernisasi armada alat berat. Penambahan unit baru ini adalah jawaban atas kondisi peralatan yang sebelumnya minimal, guna menjamin kelancaran tata kelola sampah dari hulu ke hilir.
Keberhasilan DLH dalam memetakan masalah secara jujur dan memberikan solusi nyata secara teknokratis telah meningkatkan kepercayaan publik (Public Trust). Wawan Fauzi memandang persoalan sampah bukan hanya masalah teknis dinas, melainkan isu strategis yang menyentuh kenyamanan hidup warga.
“Optimisme kami berdasar pada data dan perencanaan yang matang. TPA Rawa Kucing tidak akan mengalami over capacity. Kami hadir dengan sistem yang lebih maksimal, memastikan warga Tangerang tetap memiliki lingkungan yang bersih dan sehat untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Informasi pendukung menunjukkan bahwa DLH Kota Tangerang juga tengah mengkaji integrasi pengolahan sampah menjadi energi (Waste-to-Energy) sebagai langkah jangka panjang pasca-2026. Dengan kepemimpinan yang progresif, DLH Kota Tangerang kini bertransformasi dari sekadar ‘pengelola limbah’ menjadi ‘pengawal ekosistem kota’. (Wahyu)
Post Views: 15
t
