Tangerabgjasa News-Persoalan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan telah menjadi diskursus nasional. Di tengah tekanan publik dan rangkaian aksi unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat—mulai dari aktivis lingkungan hingga warga terdampak—Komando Resor Militer (Korem) 052/Wijayakrama mengambil langkah strategis bersama Pemerintah Kota Tangsel guna mengurai benang kusut tata kelola limbah perkotaan tersebut.
Komandan Korem 052/Wijayakrama, Brigjen TNI Faisal Rizal, menegaskan bahwa kehadiran 1.200 personel gabungan TNI-Polri merupakan respons atas volume sampah yang melampaui ambang batas normal. Selama tiga pekan terakhir, TNI tidak hanya memegang sapu dan sekop di jalan-jalan protokol, tetapi juga mengemban misi sensitif: mengawal armada pengangkut sampah menuju TPA Cilowong, Kota Serang.
Dinamika di lapangan tidak bisa dilepaskan dari gelombang protes yang sempat mewarnai wajah pusat pemerintahan Tangsel. Unjuk rasa oleh berbagai kelompok masyarakat sebelumnya menuntut solusi nyata atas bau menyengat dan tumpukan sampah yang menghiasi ruang-ruang publik. Tekanan inilah yang kemudian direspon Wali Kota Benyamin Davnie dengan mengerahkan kekuatan maksimal.
Benyamin Davnie menyadari bahwa memindahkan sampah ke Cilowong hanyalah solusi jangka pendek. Untuk meredam kritik publik di masa depan, Pemkot Tangsel menyiapkan skema masif berupa pembuatan 20.000 lubang biopori guna mereduksi 100 ton sampah organik per hari langsung dari sumbernya.











