Internasional

Martir Perdamaian di Balik Puing-Puing Ego Geopolitik

6
×

Martir Perdamaian di Balik Puing-Puing Ego Geopolitik

Sebarkan artikel ini
Foto prosesi penghormatan terakhir prajurit TNI dalam peti berselimut bendera Merah Putih.
Upacara pelepasan jenazah prajurit TNI UNIFIL yang gugur di Lebanon menuju tanah air.
TANGERANGJASA NEWS-Sejarah kembali mencatat duka dengan tinta darah. Di tanah Lebanon yang kini tercabik oleh arogansi senjata, tiga putra terbaik bangsa—Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon—harus pulang dalam peti kayu berselimut Merah Putih. Ini bukan sekadar angka statistik dalam laporan PBB, melainkan sebuah teguran keras bagi kemanusiaan yang sedang sekarat di Timur Tengah.
Presiden Prabowo Subianto, melalui gema digitalnya, telah mengirimkan pesan subliminal tentang duka yang mendalam. Namun, di balik kata “Inna lillahi,” ada pertanyaan filosofis yang menggantung, yakni Mengapa penjaga perdamaian justru menjadi mangsa dari perang yang tak kunjung menemukan ujung logikanya?

 “Turut berduka cita atas gugurnya Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah.”

Ungkapan dukacita ini diunggah Prabowo lewat fitur story dalam akun Instagram @prabowo pada Selasa (31/3/2026). “Inna lillahi wa inna ‘ilaihi raaji’uun. Turut berduka cita atas gugurnya Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah,” tulis Prabowo dalam unggahannya.

Pihak Israel Menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban non-kombatan, namun menegaskan hak untuk terus melakukan operasi militer guna menetralisir ancaman di perbatasan utara
Israel, melalui narasinya, mungkin akan menyebut ini sebagai ‘collateral damage’ atau residu dari operasional militer. Namun, dalam kacamata akal sehat, setiap peluru yang menghantam baret biru adalah serangan terhadap konsensus global. Ketika tiga nyawa melayang dalam kurun waktu 24 jam, itu bukan lagi kecelakaan; itu adalah bukti bahwa hukum internasional sedang kehilangan giginya di hadapan kekuasaan yang narsistik.
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL)  Menyatakan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian adalah pelanggaran berat terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Presiden Prabowo Subianto dan Pemerintah RI menuntut investigasi menyeluruh atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon akibat serangan Israel.
Kini, Indonesia sedang menanti. Bukan sekadar menanti kepulangan jenazah untuk dimakamkan dengan upacara militer yang megah, melainkan menanti sebuah jawaban dari investigasi yang jujur. Pemerintah, melalui Mensesneg Prasetyo Hadi, telah menuntut kejelasan. Namun, lebih dari itu, kita menanti sebuah dunia di mana perdamaian tidak lagi membutuhkan tumbal nyawa.
Pemerintah sangat menyayangkan kejadian ini sekaligus meminta kepada otoritas-otoritas terkait untuk melakukan investigasi… Kami berkoordinasi dengan Menhan, Menlu, dan Panglima TNI untuk pemulangan jenazah.” unkap Mensesneg, Prasetyo Hadi
Pada akhirnya, patriotisme bukan hanya soal keberanian angkat senjata, tapi soal kesediaan untuk menjadi martir demi tegaknya martabat manusia di tengah rimba kepentingan global. Selamat jalan, para penjaga langit biru.
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *