Tangerangjasa.id — Program revitalisasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau bedah rumah yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mulai menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat penerima manfaat. Bukan hanya memperbaiki kondisi bangunan, program tersebut juga mengubah rumah menjadi ruang tinggal yang lebih nyaman dan aman bagi keluarga.
Salah satu penerima manfaat, Dedy Hidayat, warga Kelurahan Gerendeng, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, mengaku bersyukur setelah rumahnya mendapatkan program bedah rumah.
Sebelum direnovasi, kondisi rumah Dedy disebut sudah tidak layak untuk dihuni. Kini, sejumlah bagian rumah telah diperbaiki secara menyeluruh, mulai dari atap, lantai, hingga kamar mandi.
“Rumah ini dulu sangat tidak layak dihuni, berbeda total dari keadaannya sekarang, hampir semua bagian diperbaiki. Kami sekeluarga jadi bisa tinggal dengan nyaman lagi dengan adanya program bedah rumah ini,” ujar Dedy, yang sehari-hari beraktivitas sebagai pedagang kecil di sekitar Jembatan Gerendeng, Kota Tangerang, Rabu (30/9/2026).
Menurut Dedy, perubahan kondisi rumah tersebut juga langsung dirasakan keluarganya. Dalam sebulan terakhir, mereka dapat beristirahat dengan lebih aman dan nyaman setelah kondisi rumah diperbaiki. Sirkulasi udara di dalam rumah juga menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Bagi Rustiyah, ibu dari tujuh anak sekaligus anggota keluarga Dedy, perubahan rumah bukan sekadar persoalan bangunan. Rumah yang sebelumnya terasa pengap kini menjadi tempat yang lebih nyaman bagi anak-anak untuk beraktivitas dan beristirahat.
“Kami sekeluarga sangat bersyukur dan bahagia menyambut adanya program bedah rumah ini, dulu rumah ini sangat pengap karena atapnya pendek sekarang jadi lebih nyaman. Anak-anak juga senang di rumah sekarang,” kata Rustiyah.
Kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana perbaikan hunian dapat langsung menyentuh kehidupan sehari-hari keluarga penerima manfaat. Atap, lantai, kamar mandi, hingga sirkulasi udara bukan sekadar bagian dari konstruksi rumah, tetapi turut menentukan kualitas ruang hidup sebuah keluarga.
135 Rumah di Karawaci Menjadi Sasaran pada 2026
Camat Karawaci Achmad Zuldin Syafii mengatakan program bedah rumah di wilayah Kecamatan Karawaci menyasar 135 unit rumah pada 2026.
Program tersebut diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Selain menyediakan hunian yang lebih layak, pemerintah menyebut program ini juga diarahkan untuk membantu memproteksi masyarakat dari ancaman Tuberkulosis (TBC) dan stunting melalui lingkungan tempat tinggal yang lebih layak.
“Alhamdulillah sebagian besar rumah yang dibedah sudah mencapai 100 persen bahkan beberapa di antaranya sudah ditempati lagi. Program ini telah memberikan dampak manfaat yang besar, kenyamanan untuk ditempati, keamanan untuk ditinggali dan sebagainya,” pungkas Achmad.
Capaian pembangunan yang telah mencapai 100 persen pada sebagian besar rumah menunjukkan bahwa program tersebut tidak berhenti pada proses renovasi. Sejumlah penerima manfaat bahkan telah kembali menempati rumah mereka.
Rumah pada akhirnya bukan hanya persoalan empat dinding dan sebuah atap. Bagi keluarga yang selama bertahun-tahun tinggal dalam kondisi kurang layak, perubahan rumah dapat berarti perubahan terhadap pengalaman paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari: tidur, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan membesarkan anak.
Karena itu, keberhasilan program bedah rumah tidak semata-mata dapat dilihat dari berapa banyak bangunan yang selesai direnovasi. Ukuran lainnya adalah apakah rumah tersebut benar-benar kembali menjadi ruang yang aman, nyaman, dan manusiawi bagi penghuninya.
Kisah Dedy dan Rustiyah memperlihatkan sisi paling sederhana dari kebijakan publik: ketika sebuah rumah diperbaiki, yang sebenarnya sedang diperbaiki bukan hanya bangunannya, tetapi juga rasa aman sebuah keluarga.
Dan mungkin di situlah makna paling manusiawi dari sebuah rumah: ia bukan sekadar tempat manusia berteduh dari hujan, melainkan tempat harapan belajar untuk tetap tinggal.













