Lingkungan Hidup

Cisadane Tercemar Limbah Kimia, Warga Tangerang Keluhkan Air Perumdam TB Cokelat dan Minimnya Informasi

19
×

Cisadane Tercemar Limbah Kimia, Warga Tangerang Keluhkan Air Perumdam TB Cokelat dan Minimnya Informasi

Sebarkan artikel ini
Kondisi air PAM berwarna cokelat di bak penampungan warga Keroncong Kota Tangerang pasca pencemaran Sungai Cisadane oleh limbah kimia
Kondisi air PAM berwarna cokelat di bak penampungan warga Keroncong Kota Tangerang pasca pencemaran Sungai Cisadane oleh limbah kimia.
Tangerangjasa.id– Sebuah alarm peringatan bagi kesehatan publik berdering di wilayah Keroncong, Kota Tangerang. Aliran air dari Perumda Tirta Benteng (TB) yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, berubah menjadi ancaman kesehatan setelah Sungai Cisadane terkonfirmasi tercemar berat akibat kebakaran gudang bahan kimia di Serpong, Tangerang Selatan, pada Senin (9/2/2026).
Pencemaran ini bukan sekadar masalah estetika air yang berubah warna menjadi cokelat, melainkan menyangkut paparan zat kimia berbahaya yang mengalir ke rumah-rumah warga tanpa peringatan dini yang memadai.
Keluhan warga mencuat bukan hanya karena kualitas air yang buruk, tetapi karena hilangnya fungsi kanal informasi resmi BUMD tersebut. Hasan (35), seorang warga Keroncong, mengungkapkan kekecewaannya atas tidak adanya pemberitahuan terkait penghentian operasi hingga dampak pencemaran.
“Biasanya ada pemberitahuan jika ada gangguan, tapi kali ini tiba-tiba mati pukul 01.00 WIB dan menyala pukul 07.00 WIB dalam kondisi cokelat pekat. Saya cek akun Instagram Perumda Tirta juga tidak ada info wilayah terdampak. Padahal air ini sangat vital,” ujar Hasan, Selasa (10/2/2026).
Bahaya Tersembunyi di Balik Air yang Dimasak
Kekosongan informasi ini memicu risiko fatal. Tanpa peringatan bahwa air baku tercemar limbah kimia berminyak dan berbau menyengat, banyak warga yang secara tidak sadar tetap menggunakan air tersebut untuk kebutuhan domestik, termasuk memasak.
Pakar kesehatan mengingatkan bahwa memasak air yang terkontaminasi bahan kimia tidak akan menghilangkan racunnya, berbeda dengan membunuh bakteri. Zat kimia berbahaya dari limbah gudang pestisida atau bahan kimia lainnya justru dapat terkonsentrasi saat air mendidih, yang jika dikonsumsi dapat memicu gangguan pencernaan kronis, kerusakan organ dalam, hingga risiko jangka panjang lainnya.
Direktur Teknik Perumda Tirta Benteng, Joko Surana, mengakui adanya penghentian total operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) sebagai langkah darurat.
“Kami mendeteksi air baku tercemar limbah kimia dengan indikasi ikan mati mendadak dan bau menyengat. Langkah awal adalah stop operasi seluruh IPA. Kami juga berkoordinasi dengan pengelola Bendung 10 untuk membuang limbah ke laut melalui pintu 9 dan 10,” jelas Joko.
Meski pemantauan per 30 menit menunjukkan kualitas air mulai membaik pada pukul 05.00 WIB, tantangan besar tetap ada pada sisa residu yang sudah terlanjur masuk ke jaringan pipa warga dan minimnya edukasi mengenai bahaya air sisa pencemaran tersebut.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa dalam situasi krisis lingkungan, kecepatan distribusi air harus berjalan selaras dengan kecepatan distribusi informasi. Air yang kembali mengalir namun masih membawa residu kimia adalah ancaman dalam diam. Pemerintah Kota dan BUMD terkait dituntut tidak hanya memulihkan layanan, tetapi juga memastikan setiap tetes air yang sampai ke gelas warga benar-benar aman dari jejak racun kimia.(Hasyim)
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *