Sosial

Krisis Cipeucang Memaksa Pengumpul Sampah Tangsel “Mengungsi” ke TPA Swasta di Kota Tangerang

15
×

Krisis Cipeucang Memaksa Pengumpul Sampah Tangsel “Mengungsi” ke TPA Swasta di Kota Tangerang

Sebarkan artikel ini
Petugas pengumpul sampah mandiri menggunakan motor roda tiga dengan bak tertutup terpal biru sedang bersiap mengangkut sampah perumahan di Pamulang menuju TPA swasta di Ciledug pada Januari 2026.
Ujang (Pengumpul Sampah Pemukiman Pamulang).
Tangerangjasa News – Dampak dari kelebihan kapasitas (overload) dan risiko keselamatan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, mulai dirasakan secara nyata oleh para pejuang kebersihan akar rumput di Tangerang Selatan (Tangsel). Sejak dua bulan terakhir, para pengumpul sampah mandiri terpaksa mencari alternatif pembuangan ke pihak swasta di luar wilayah Tangsel guna memastikan lingkungan pemukiman warga tetap bersih dari tumpukan limbah domestik.
Kondisi TPA Cipeucang yang sempat mengalami insiden longsor akibat gunungan sampah yang melampaui batas aman, kini dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan petugas maupun keandalan alat pembuangan. 
Salah satu pengumpul sampah mandiri, Ujang, yang telah mendedikasikan dirinya selama hampir satu dekade melayani warga di RW 009 Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, mengungkapkan realitas sulit yang dihadapinya. Demi menjaga komitmen kepada warga, ia kini harus menempuh perjalanan lebih jauh menuju salah satu TPA swasta di kawasan Ciledug, Kota Tangerang.
“Sejak dua bulan terakhir, kami harus membayar sekitar Rp1,5 juta per bulan ke tempat pembuangan swasta di Ciledug. TPA Cipeucang sudah terlalu penuh dan pernah longsor, itu berbahaya untuk kami kalau dipaksakan ke sana,” ungkap Ujang dikutip dari BB di Komplek Alfalah 1, Minggu (18/1/2026). 
Setiap bulannya, Ujang mengangkut rata-rata satu ton sampah dari berbagai perumahan di kawasan Pamulang. Menggunakan motor roda tiga yang dimodifikasi dengan bak besi dan tertutup terpal biru, ia menyiasati kemacetan dengan melewati jalur-jalur tikus agar kiriman limbah domestik tersebut sampai tepat waktu tanpa mencemari jalanan dengan air lindi.
Secara intelektual-humanis, fenomena ini menunjukkan ketangguhan sekaligus kerentanan sistem pengelolaan sampah di wilayah urban. Pengumpul sampah mandiri seperti Ujang tidak mendapatkan gaji dari pemerintah, sehingga biaya operasional dan pembuangan sepenuhnya bergantung pada iuran sukarela dari warga perumahan.
“Saya tidak digaji pemerintah, jadi saya fokus mengumpulkan sampah dari pemukiman warga saja. Yang penting sekarang alirannya lancar, tempat pembuangan di Ciledug tetap bisa menerima kiriman kami meskipun harus membayar lebih. Motor roda tiga ini juga masih sanggup menempuh jarak ke sana,” tambahnya.
Sementara itu, untuk penumpukan sampah di jalur-jalur protokol, Ujang mengamati bahwa pihak Pemerintah Kota Tangsel telah mulai melakukan pengangkutan secara bertahap. Namun, ketidakpastian kapan TPA Cipeucang dapat kembali beroperasi secara normal masih menjadi tanda tanya besar bagi para penyedia jasa angkut sampah mandiri. 
Situasi ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antar-daerah dalam manajemen limbah di Jabodetabek. Ketika infrastruktur utama di satu wilayah mengalami lumpuh operasional, beban tersebut secara otomatis bergeser ke wilayah tetangga melalui kanal-kanal swasta.
Hingga saat ini, para pengumpul sampah di Pamulang dan sekitarnya berharap ada solusi permanen dari Pemkot Tangsel terkait revitalisasi TPA Cipeucang atau penyediaan lahan pembuangan baru yang lebih aman, agar biaya operasional yang dibebankan kepada warga tidak semakin membengkak di masa depan.(chika harun)

 

thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *