Lingkungan Hidup

Pakar Lingkungan Ingatkan Risiko Polutan Sedimen dan Keterbatasan Filterasi Perumdam

11
×

Pakar Lingkungan Ingatkan Risiko Polutan Sedimen dan Keterbatasan Filterasi Perumdam

Sebarkan artikel ini
Bahaya Tersembunyi: Pakar Teknik Lingkungan, Ivan S. Jayawan, memperingatkan bahwa kejernihan visual sungai pasca-pencemaran hanyalah semu, karena residu kimia yang mengendap di dasar sungai dapat terlepas kembali ke aliran air selama berbulan-bulan hingga tahunan
Ilustrasi teknis pengendapan partikel kimia pestisida ke dalam sedimen tanah di dasar sungai yang berpotensi menjadi sumber polusi jangka panjang
Ringkasan berita
  •  Residu pestisida yang tidak larut berisiko mengendap di dasar sungai dan terserap sedimen, menjadi sumber polusi laten yang sulit dibersihkan dalam waktu singkat.
  •  Teknologi filtrasi standar Perumdam/PDAM dinilai belum mumpuni menghadapi polutan kimia dosis tinggi, menuntut pengawasan air baku yang lebih ketat dan berbiaya mahal.
  •  Kepolisian didesak mengusut prosedur penyimpanan gudang PT BS untuk memastikan adanya mitigasi kebakaran yang sesuai standar penanganan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Tangerangjasa.id – Pulihnya kejernihan visual Sungai Cisadane satu hari pasca-kontaminasi limbah pestisida PT BS bukanlah akhir dari krisis. Pakar Teknik Lingkungan, Ivan S. Jayawan, memberikan peringatan keras bahwa ancaman sesungguhnya kini berpindah ke dasar sungai. Menurutnya, pestisida memiliki sifat insoluble (tidak larut) yang akan mengendap dan diserap oleh sedimen atau tanah di dasar sungai, menciptakan “bom waktu” ekologis yang bisa melepas polutan secara perlahan dalam hitungan bulan hingga tahunan.
Kekhawatiran utama Ivan tertuju pada integritas sumber air baku. Ia mengungkapkan bahwa Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumdam pada umumnya tidak didesain untuk memproses kontaminan kimia dalam konsentrasi masif.
“Langkah Perumdam menghentikan operasional adalah keputusan tepat, namun tantangan jangka panjangnya adalah pemantauan berkala. Alat pengecekan konsentrasi kimia ini sangat mahal dan langka, biasanya hanya dimiliki universitas atau korporasi besar,” jelas Ivan.
Lebih jauh, ia mendesak Pemerintah Daerah untuk bersikap transparan mengenai jenis dan volume bahan kimia yang bocor ke publik. Secara teknis, Ivan menyarankan masyarakat untuk benar-benar menghentikan penggunaan air sungai, termasuk untuk mandi, karena risiko absorpsi zat beracun melalui pori-pori kulit. Sebagai solusi restorasi, ia mengusulkan pembuatan sistem rawa buatan (constructed wetlands) untuk membantu filtrasi alami polutan di tanah, meskipun hal tersebut memerlukan waktu dan komitmen anggaran yang tidak sedikit.
Analisis tajam dari Ivan S. Jayawan ini meletakkan tanggung jawab besar pada pundak Pemerintah Kota Tangerang dan Tangerang Selatan untuk tidak sekadar melakukan “pembersihan permukaan”. Transparansi data kimia dan rencana kerja pemulihan ekosistem seminggu ke depan menjadi harga mati untuk meredam kecemasan publik. Cisadane adalah urat nadi; membiarkan dasarnya beracun sama saja dengan membiarkan masa depan kesehatan warga dalam pertaruhan besar.(Acep Sunandar)
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *