INFRASTRUKTUR PUBLIK & KEAMANAN LINGKUNGAN

Sabotase di Cimone Jaya, Ketika Mesin Pompa Dicuri dan Keselamatan Warga Digadaikan

38
×

Sabotase di Cimone Jaya, Ketika Mesin Pompa Dicuri dan Keselamatan Warga Digadaikan

Sebarkan artikel ini
Kondisi gardu pompa air di Cimone Jaya yang rusak pasca aksi pencurian mesin penyedot banjir.
Sabotase Fasilitas Publik: Pintu gardu penyimpanan mesin pompa banjir di RT 02/RW 08 Cimone Jaya terlihat copot akibat aksi pencurian. Warga mendesak percepatan penggantian mesin oleh Dinas PUPR guna mengantisipasi ancaman banjir susulan.
TANGERANGJASA NEWS–Ada paradoks yang menyedihkan di RW 08 Cimone Jaya. Di satu sisi, kita bicara tentang teknokrasi penanggulangan banjir, namun di sisi lain, kita melihat kerapuhan sosiologis di mana infrastruktur vital justru menjadi obyek penjarahan. Hilangnya mesin pompa berbobot ratusan kilogram dari gardu RT 02 bukan sekadar tindakan kriminal biasa; ini adalah “pencurian nyawa” secara kolektif. Pelaku tidak hanya mengangkut besi dan mesin, mereka sedang mengangkut rasa aman ratusan warga yang kini dibayangi ancaman genangan setinggi paha.

Musaropah, Ketua RT 02/08 Cimone Jaya mengaku sedih atas peristiwa ini “Kehilangan ini adalah ancaman langsung. Tanpa alat penyedot yang memadai, risiko banjir di pemukiman kami akan meningkat drastis. Kami sangat prihatin atas hilangnya tumpuan warga ini.”

Vandalisme ini mengekspos dua lubang besar: lubang di pintu gardu yang jebol dan lubang dalam sistem keamanan aset publik kita. Bagaimana mungkin alat sekrusial itu, yang menjadi tumpuan hidup saat hujan tiba, berada dalam kegelapan tanpa pengawasan CCTV atau sistem proteksi yang memadai? Ini adalah bentuk pengabaian yang terencana. Kita seringkali hanya jago membangun infrastruktur, tapi tak mampu dalam merawat dan menjaganya.
Terpisah, Warga RW 08 Mengeluhkan minimnya penerangan di area vital yang memudahkan pelaku melancarkan aksinya tanpa terdeteksi.
Sementara itu, Dinas PUPR Kota Tangerang  Sedang mengevaluasi permohonan penggantian mesin darurat dan mengimbau masyarakat untuk turut serta menjaga keamanan infrastruktur banjir di wilayah masing-masing.
Kini, warga Cimone Jaya dipaksa bertaruh dengan cuaca. Kapasitas pompa tunggal yang tersisa hanyalah harapan yang pincang di tengah debit air yang tidak pernah kompromi. Kita menuntut Dinas PUPR bukan hanya untuk mengganti mesin, tapi mengganti paradigma pengelolaan aset. Tanpa sinergi antara teknologi pengawasan dan partisipasi organik warga melalui Siskamling, setiap aset publik di kota ini hanyalah menunggu giliran untuk menjadi rongsokan di tangan para penjarah.

 

thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *