TANGERANGJASA NEWS-Tangerang Selatan sedang mencoba melakukan lompatan kuantum dalam etika lingkungan. Ketika Wali Kota Benyamin Davnie mengumumkan masuknya Tangsel ke dalam skema aglomerasi regional Banten, kita tidak hanya bicara tentang perpindahan truk sampah dari satu titik ke titik lain. Ini adalah pengakuan bahwa sampah adalah “dosa kolektif” yang tidak bisa diselesaikan dengan sekat-sekat administratif yang kaku. Namun, di balik diksi aglomerasi yang dikoordinasikan oleh Gubernur dan Menteri Lingkungan Hidup, ada pertanyaan fundamental: Apakah ini solusi integratif atau sekadar redistribusi beban masalah ke tetangga sebelah?
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan “Kami telah bersepakat bahwa Tangerang Selatan masuk dalam skema aglomerasi… Ini langkah fundamental untuk sistem pengolahan sampah terintegrasi di Banten. Kami juga akan mengajukan minat PSEL setelah seluruh persyaratan ketat terpenuhi.”
Keputusan untuk tetap membuka opsi kemandirian melalui Danantara dan akselerasi proyek PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) menunjukkan kegelisahan intelektual birokrasi. Tangsel ingin terlihat modern dengan mengubah limbah menjadi voltase listrik. Namun, kita harus ingatkan: teknologi hanyalah alat, bukan pengganti kesadaran sosiologis. PSEL jangan sampai menjadi “kosmetik hijau” yang menutupi kegagalan kita dalam mengurangi produksi sampah di hulu. Mengubah sampah menjadi energi adalah inovasi, tapi mengurangi sampah adalah peradaban.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup: Menyambut baik inisiatif aglomerasi regional sebagai model sinkronisasi kebijakan sampah lintas daerah guna mengurangi beban TPA tunggal.Terpisah Pihak Danantara saat ini Sedang mengkaji opsi fleksibilitas pengelolaan mandiri bagi Tangsel untuk memastikan efisiensi fiskal dan presisi infrastruktur lokal.
Disisi lain, Aktivis Lingkungan Tangsel Mengingatkan bahwa teknologi PSEL harus dibarengi dengan edukasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga agar tidak menjadi solusi jangka pendek yang mahal
Keberanian Benyamin Davnie untuk berselancar di antara skema pusat dan ambisi lokal ini patut dicatat sebagai upaya membangun Smart City yang tidak hanya cerdas secara digital, tapi cerdas secara ekologis. Publik kini menunggu, apakah PSEL akan menjadi monumen energi terbarukan yang nyata, atau sekadar proyek mercusuar di tengah gunung sampah yang terus meninggi. Di Tangsel, sampah bukan lagi sekadar bau yang menyengat, melainkan ujian sejauh mana akal sehat pemimpinnya mampu mengonversi beban menjadi kemaslahatan publik.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak diukur dari seberapa megah gedung-gedungnya, melainkan dari seberapa jujur ia mengelola sisa-sisa konsumsinya. Tangsel sedang mencoba jujur pada sampah, dan kita sedang menonton apakah kejujuran itu akan membuahkan cahaya listrik atau sekadar asap janji.
Post Views: 40
t
