Ekonomi

Nestapa di Pusat Tekstil Cipadu, Omzet Anjlok Drastis Pedagang Bertahan di Tengah Badai Lesunya Daya Beli

68
×

Nestapa di Pusat Tekstil Cipadu, Omzet Anjlok Drastis Pedagang Bertahan di Tengah Badai Lesunya Daya Beli

Sebarkan artikel ini
Dampak kebijakan impor dan e-commerce terhadap pedagang tekstil Cipadu Tangerang 2026
Kondisi sepi pengunjung di pusat kain Cipadu, Januari 2026. Penurunan omzet hingga 70% memaksa pedagang melakukan PHK karyawan. Kebijakan impor dan dominasi pasar digital menjadi faktor utama di balik tumbangnya pasar tekstil tradisional
Tangerangjasa News – Geliat ekonomi di Pasar Tekstil Cipadu, Larangan, Kota Tangerang, yang selama ini dikenal sebagai episentrum perdagangan kain di Banten, kini berada dalam titik nadir. Memasuki Januari 2026, para pedagang di kawasan tersebut mengeluhkan penurunan omzet drastis yang dipicu oleh kombinasi fatal: lesunya daya beli masyarakat, derasnya arus produk impor, serta disrupsi pasar digital yang kian dominan.

Salah satu pedagang tekstil, Muklis, memaparkan potret buram kondisi pasar saat ini. Ia mengungkapkan bahwa pendapatan usahanya mengalami terjun bebas. Jika sebelumnya ia mampu konsisten meraup omzet rata-rata Rp30 juta per bulan, kini menyentuh angka Rp10 juta saja menjadi perjuangan yang luar biasa berat.
“Dulu omzet bisa tembus Rp30 juta, sekarang dapat Rp10 juta saja susahnya luar biasa. Pasar benar-benar sepi,” ujar Muklis saat ditemui di tokonya, Rabu (21/1/2026).
Kelesuan ini berdampak langsung pada pemangkasan tenaga kerja. Muklis yang semula mempekerjakan sembilan orang, kini hanya mampu mempertahankan tiga karyawan saja.
“Perputaran uang tidak cukup untuk menggaji sembilan orang seperti dulu. Efisiensi ini langkah pahit yang terpaksa diambil,” tambahnya.

Lesunya Cipadu tidak lepas dari dampak Kebijakan Impor Tekstil yang dinilai para pelaku usaha belum sepenuhnya melindungi produsen dan pedagang lokal. Di tahun 2026, rembesan produk tekstil impor murah—baik legal maupun ilegal—masih membanjiri pasar domestik, sehingga menggeser produk lokal yang secara ongkos produksi sulit bersaing.
Meskipun pemerintah telah berupaya memperketat aturan melalui pembatasan kuota dan kenaikan tarif bea masuk, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa disparitas harga yang terlalu lebar membuat konsumen lebih memilih produk impor ketimbang lokal yang selama ini menjadi kekuatan utama Cipadu.

Di sisi lain, pesatnya Perkembangan E-Commerce 2026 melalui platform social commerce telah mengubah fundamental perilaku belanja. Konsumen kini cenderung membeli pakaian jadi (ready-to-wear) yang murah dan instan melalui siaran langsung (live shopping) daripada membeli bahan kain di pasar fisik untuk dijahit kembali.
Fenomena ini menjadikan keramaian di Cipadu bersifat musiman, yang hanya terjadi menjelang Idul Fitri. Selebihnya, lorong pasar hanya diisi kesunyian. Para pedagang kini berharap adanya langkah konkret, mulai dari pengawasan ketat terhadap barang impor di tingkat distributor hingga program literasi digital bagi pedagang pasar fisik agar mampu bersaing di ekosistem ekonomi baru.
Jika tidak ada intervensi strategis, kejayaan Cipadu sebagai “Bumi Tekstil” dikhawatirkan hanya akan tinggal menjadi catatan sejarah di tengah kerasnya arus globalisasi dan digitalisasi.(Rudy Herlan)
thttps://tangerangjasa.id/wp-content/uploads/2025/11/TJ-S.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *