Tangerangjasa News– Deru mesin pesawat yang mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat malam (30/1/2026) membawa pulang 36 Warga Negara Indonesia (WNI). Bagi para Pekerja Migran Indonesia Bermasalah (PMIB) sektor online scam ini, ketibaan pada pukul 20.10 WIB tersebut adalah akhir dari mimpi buruk di Kamboja. Namun, bagi ribuan keluarga lain di Tanah Air, momen ini justru menjadi pengingat pedih tentang nasib kerabat mereka yang masih terjebak dalam jeruji sindikat penipuan internasional.
Di balik serah terima administratif 36 WNI ini, tersimpan data yang menggetarkan nurani. Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, mengungkapkan bahwa setidaknya 1.726 WNI kini tengah membanjiri KBRI Phnom Penh setelah keluar dari sarang sindikat. Angka ini hanyalah puncak gunung es dari sebuah tragedi kemanusiaan yang masif.
Kaitan antara kepulangan ini dengan korban yang belum ditemukan menciptakan luka sosiologis yang mendalam. Di berbagai pelosok Indonesia, banyak keluarga yang hingga kini hanya bisa menatap layar ponsel yang tak kunjung berdering. Mereka hidup dalam kecemasan konstan, membayangkan kerabat mereka mungkin sedang menanggung luka fisik akibat cambukan atau jeratan listrik di pusat-pusat operasional sindikat yang terisolasi.
Kemlu kembali menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur resmi bekerja di luar negeri guna memutus mata rantai eksploitasi ini. “Kami terus berkoordinasi dengan KBRI Phnom Penh untuk memastikan pemulangan berlangsung aman dan cepat,” tulis Kemlu dalam siaran persnya.













