Tangerangjasa News-Di tengah kepungan air setinggi empat meter yang melumpuhkan Perumahan Periuk Damai, Kota Tangerang, terselip fragmen kemanusiaan yang getir. Banjir bukan sekadar angka debit air atau jebolnya tanggul Kali Sabi; banjir adalah ancaman nyata terhadap nyawa yang luput dari kalkulasi teknokratis.
Tragedi hampir merenggut Oneil (12), seorang bocah yang menjadi simbol kerentanan anak-anak di tengah bencana. Hanya berjarak 300 meter dari Masjid Al-Jihad—titik yang seharusnya menjadi tempat perlindungan—maut nyaris menjemputnya di balik turap. Saat bermain di arus sisa luapan, Oneil terseret pusaran air yang menyembunyikan kedalamannya. Kejadian ini menjadi kritik keras bagi kita semua, di mana ruang aman bagi anak-anak ketika infrastruktur kota justru berubah menjadi jebakan maut?
Di sudut lain, Ibu Lina (54) merepresentasikan kegelisahan kolektif warga atas hilangnya ruang hidup. Tergelincir saat mencoba menatap rumahnya yang telah karam ditelan air, Lina mengingatkan kita bahwa bagi korban banjir, rumah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan memori yang sedang tenggelam. Luka fisiknya akibat tergelincir mungkin akan sembuh, namun trauma melihat “seluruh hidupnya” tertutup air keruh adalah luka sistemik yang sulit pulih.
Tragedi ini menuntut lebih dari sekadar pompa air dan bantuan logistik. Ini adalah tuntutan akan keadilan ekologis dan tanggung jawab tata kota yang selama ini memunggungi sungai. (Redaksi)











