Tangerangjasa News– Keheningan malam di sekitar Bendungan Pasar Baru, Neglasari, pecah oleh lengkingan sirine pada Jumat (30/1/2026) pukul 01.40 WIB. Bunyi peringatan dari Pintu Air 10 ini segera menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah unggahan akun @infotangerang.id viral, memotret momen elevasi Kali Cisadane yang merangkak naik akibat kiriman air dari hulu Gunung Salak, Bogor.
Petugas Operasional Bendung Pasar Baru, Abdul Mayid, mengonfirmasi bahwa aktivasi sirine merupakan prosedur standar operasional (SOP) saat air menyentuh level peringatan. “Itu siaga 3, sifatnya warning. Kondisi masih aman dan bisa ditoleransi selama hujan tidak ekstrem,” jelasnya. Namun, bagi warga yang menggantungkan hidup di sepanjang aliran sungai, angka “9 hingga 10 meter” bukan sekadar statistik, melainkan alarm kewaspadaan atas aset-aset mereka.
Secara ekonomi, status siaga—sekalipun masih di level 3—memaksa masyarakat melakukan langkah preventif yang memakan biaya dan energi. Para pelaku UMKM di bantaran sungai, pedagang, hingga pemilik usaha jasa transportasi sungai mulai dihinggapi kecemasan akan potensi kerusakan barang dagangan atau penghentian aktivitas ekonomi sementara.
- Biaya Logistik Mandiri: Warga harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengevakuasi barang elektronik, dokumen, hingga kendaraan ke tempat yang lebih tinggi, yang sering kali mengganggu produktivitas kerja di pagi harinya.
- Risiko Infrastruktur: Sebagaimana imbauan Abdul Mayid terkait sampah, material kayu atau limbah yang tersangkut di pintu air berisiko merusak struktur dermaga kecil atau keramba milik warga, yang menjadi sumber pendapatan ekonomi lokal.
Di balik ketenangan petugas yang menyebut kondisi “masih aman”, terselip harapan besar dari warga Kota Tangerang. Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada pemberian peringatan melalui sirine, tetapi juga memperkuat mitigasi struktural.











