TANGERANGJASA.ID-Langkah taktis diambil Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang sebagai respons atas anomali kualitas air di Sungai Cisadane. Bukan sekadar penanganan teknis, aksi penuangan 1.500 liter ekoenzim pada Jumat (13/2/26) ini merupakan bentuk Resiliensi Ekologis yang melibatkan orkestrasi apik antara birokrasi, akademisi, dan relawan kemanusiaan.
Beranda
Lingkungan Hidup
Simfoni Kolaborasi Sipil-Pemerintah dalam Mitigasi Pencemaran Berbasis Ekoenzim
Simfoni Kolaborasi Sipil-Pemerintah dalam Mitigasi Pencemaran Berbasis Ekoenzim
admin2 min baca
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, menekankan bahwa penggunaan ekoenzim—larutan organik hasil fermentasi—adalah manifestasi dari solusi berbasis alam (nature-based solutions). Metode penyemprotan dengan spray tank dan penyisiran sungai menjadi ikhtiar untuk memulihkan daya dukung lingkungan Cisadane
yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan warga.
Yang menarik dari fenomena ini adalah keterlibatan kolektif dari entitas seperti PMI, MDMC, hingga sektor pendidikan (UNIS dan BPK PENABUR). Sekretaris MDMC Kota Tangerang, Yan Evries, menyebut gerakan ini lahir dari “kegelisahan organik” masyarakat terhadap kelestarian air. Ini membuktikan bahwa di Tangerang, isu lingkungan telah bergeser dari sekadar wacana menjadi sebuah Gerakan Kebudayaan Baru dalam menjaga ruang hidup bersama.
Aksi di Sungai Cisadane ini memberikan diskursus baru bagi Indonesia mengenai pentingnya Kedaulatan Air. Ketika sebuah daerah mampu menggerakkan elemen masyarakatnya untuk turun ke sungai dalam waktu singkat, hal itu menunjukkan tingkat kepedulian sosial yang tinggi. Upaya kolektif ini bukan hanya tentang membersihkan air dari limbah, tetapi tentang membersihkan kesadaran kolektif kita bahwa lingkungan adalah warisan, bukan sekadar komoditas. Cisadane hari ini adalah potret perjuangan manusia dalam menjaga harmonisasi dengan alam di tengah tantangan industrialisasi global. (AL)











