TANGERANGJASA.ID-Di tengah eskalasi geopolitik yang membakar Selat Hormuz, publik Indonesia menyaksikan sebuah orkestrasi “diplomasi minyak” yang melampaui sekadar urusan logistik. Langkah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam menavigasi pembebasan kapal tanker BBM Pertamina bukan sekadar keberhasilan teknis, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan energi di hadapan ketidakpastian global.
Mengapa Langkah Bahlil di Selat Hormuz Adalah Sebuah Oase Akal Sehat?
admin2 min baca
Ketika peta dunia sedang robek oleh ego sektoral kekuatan besar, Bahlil hadir dengan pragmatisme yang jernih. Membebaskan aset energi di wilayah konflik sekelas Hormuz membutuhkan lebih dari sekadar keberanian; ia membutuhkan ketangkasan membaca “geometri kekuasaan.” Langkah ini sejajar dengan upaya Kementerian Luar Negeri dalam menjaga marwah diplomasi Indonesia sebagai jembatan di tengah bara konflik.
“Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya antre BBM hanya karena kita gagal bernegosiasi dengan realitas,” mungkin begitulah tesis yang mendasari gerak cepat ini. Dengan mengamankan jalur kapal dan sekaligus menyiapkan diversifikasi pasokan dari Amerika hingga Afrika, Bahlil sedang mempraktikkan apa yang kita sebut sebagai strategic autonomy—kemandirian yang tidak pasif, tapi aktif menjemput solusi.
Apresiasi yang mengalir bukan sekadar puja-puji seremonial, melainkan pengakuan atas kembalinya fungsi perlindungan negara terhadap hajat hidup orang banyak. Di saat kementerian lain bergulat dengan inflasi, keberhasilan di Hormuz ini menjadi jangkar yang menjaga ekspektasi publik agar tidak karam dalam kepanikan. Ini adalah pembuktian bahwa di tangan manajemen yang bervisi, krisis bisa diubah menjadi panggung kepemimpinan.













