TANGERANGJASA.ID-Dinamika ekonomi domestik menjelang Idulfitri 1447 H menjadi ujian bagi ketangguhan pangan dan stabilitas harga di tingkat daerah. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Tangerang mencatatkan indeks inflasi sebesar 4,64 persen pada Februari 2026. Meski menunjukkan tren peningkatan akibat anomali cuaca dan lonjakan permintaan musiman, angka ini tetap menempatkan Kota Tangerang sebagai daerah dengan tingkat inflasi terendah di Provinsi Banten yang rata-rata menyentuh 5,7 persen.
Pemerintah Kota Tangerang memandang angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikator kesejahteraan masyarakat yang harus dikelola dengan pendekatan humanis. Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ruta Ireng Wicaksono, mengungkapkan bahwa kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) ke angka 109,47 dipicu oleh komoditas pokok seperti bayam, bawang merah, dan daging ayam ras.
“Kami menyadari bahwa stabilitas harga adalah kunci ketenangan warga dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, di balik angka inflasi ini, pemerintah hadir secara aktif melalui intervensi pasar untuk memastikan beban ekonomi masyarakat tetap terkendali,” ujar Ruta dalam keterangannya, Selasa (3/3/26).
Transformasi kebijakan dari pemantauan pasif menjadi aksi responsif terlihat dari masifnya program Gampang Sembako Ramadan di berbagai wilayah. Langkah ini sejajar dengan arah kebijakan pusat dalam menjaga inflasi pada koridor yang aman, sekaligus membuktikan bahwa kemandirian ekonomi daerah dapat tercapai melalui distribusi pangan yang presisi. Dengan rasio deflasi ke inflasi yang lebih stabil dibandingkan bulan sebelumnya, Kota Tangerang optimis mampu menjaga daya beli masyarakat hingga puncaknya pada perayaan Idulfitri mendatang.
Keberhasilan mengendalikan inflasi di tengah badai kenaikan harga pangan nasional menegaskan bahwa sinergi antara data statistik dan empati kebijakan adalah pondasi utama dalam merawat kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.
Post Views: 14
t
