TANGERANGJASA.ID-Di tengah arus modernitas yang kian menderu, Pemerintah Kota Tangerang bersama Fatayat NU melakukan sebuah langkah strategis dalam merawat nalar budi dan spiritualitas publik. Melalui sinergi lintas sektor, perhelatan Ramadan Karim di Masjid Agung Al-Ittihad bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari kebijakan publik yang berbasis pada nilai-nilai humanis dan pelestarian tradisi lokal.
Penguatan ekosistem religi ini menjadi sorotan nasional karena kemampuannya mengintegrasikan peran Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) ke dalam ruang-ruang publik yang inklusif. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang, Kaonang, menegaskan bahwa setiap elemen pemuda memiliki karakteristik unik yang harus diberikan kanal kreatif. “Fatayat NU dengan basis nilai keagamaan yang kuat menjadi motor penggerak dalam merawat tradisi ini, memastikan bahwa Masjid Al-Ittihad bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat peradaban dan persatuan,” tuturnya.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa pasca-pelaksanaan program ini, tingkat partisipasi generasi muda dari kalangan santri hingga siswa madrasah dalam kegiatan sosial kemasyarakatan meningkat signifikan. Fenomena ini dipandang sebagai bentuk intellectual capital bagi kota, di mana kompetisi seperti tari kreasi dan grebek sahur menjadi instrumen untuk memperhalus rasa serta memperkuat kohesi sosial di tengah keragaman.
Ketua DKM Masjid Al-Ittihad, Herman Suwarman, menekankan bahwa Ramadan Karim adalah benteng budaya. Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan ini sejajar dengan misi kementerian pusat dalam mendorong moderasi beragama—menjadikan agama sebagai inspirasi yang menggerakkan, bukan memisahkan.
Dengan adanya integrasi antara edukasi dai dan hiburan rakyat, Kota Tangerang berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional tidak harus ditinggalkan untuk menjadi maju. Transformasi Masjid Al-Ittihad menjadi episentrum kegiatan produktif ini kini menjadi perbincangan sebagai pola community-based development yang patut direplikasi oleh daerah lain di Indonesia.
Keberlanjutan program Ramadan Karim memberikan pesan kuat bagi Indonesia: bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisiknya, tetapi dari seberapa erat masyarakatnya memegang teguh akar budaya dan nilai spiritualitas sebagai kompas kehidupan berbangsa.(AL)
Post Views: 8
t
